Apa itu Trendjacking Konten? dan Relevansi pada 2026

Marketing Trends Admin 26 views
Selasa, 19 Mei 2026 - 19:42 WIB
Apa itu Trendjacking Konten? dan Relevansi pada 2026

Dalam dunia digital marketing, ada banyak istilah unik yang sering muncul dan bikin penasaran. Salah satu yang cukup populer adalah trendjacking. Kalau disederhanakan, trendjacking adalah strategi marketing dengan memanfaatkan tren atau topik yang lagi viral untuk dijadikan bahan promosi brand.

Biasanya, strategi ini dilakukan lewat hashtag, meme, atau isu yang lagi ramai dibahas di media sosial. Tujuannya? Tentu buat menarik perhatian audiens dan mendatangkan traffic sebanyak mungkin. Dari situ, brand bisa meningkatkan awareness yang nantinya berpeluang menghasilkan konversi juga.

Tapi walaupun kelihatannya gampang, trendjacking ternyata nggak sesimpel ikut tren doang. Strategi ini cukup tricky karena kalau salah langkah, reputasi brand juga bisa kena dampaknya. Makanya, penting banget buat memahami cara mainnya sebelum ikut terjun memanfaatkan tren yang sedang viral.

Perlu diingat juga, nggak semua brand cocok memakai strategi ini. Kalau target audiens brand kamu cenderung lebih dewasa atau formal, trendjacking mungkin kurang relevan. Jadi, jangan asal ikut viral kalau ternyata nggak nyambung sama audiens kamu.

Nah, supaya trendjacking yang dilakukan nggak zonk, ada beberapa hal yang wajib diperhatikan:

1. Selalu update sama tren terbaru

Kalau mau ikut trendjacking, kamu wajib rajin mantau tren yang lagi ramai. Gunakan media sosial, explore TikTok, X, Instagram, atau tools monitoring tren lainnya buat cari tahu topik apa yang lagi naik daun. Semakin cepat brand kamu gerak, semakin besar peluang dapetin exposure.

2. Jangan cuma ikut tren, tapi pahami juga konteksnya

Sering banget ada brand yang asal ikut viral tanpa ngerti makna di balik tren tersebut. Akibatnya? Kontennya malah terasa cringe atau dipaksakan. Sebelum bikin campaign, pastikan kamu paham konteks, jokes, atau alasan kenapa tren itu bisa viral.

3. Pastikan tren tersebut relevan sama audiens

Nggak semua tren harus diikutin. Pilih tren yang memang relate sama target market brand kamu. Kalau audiens nggak merasa nyambung, campaign yang dibuat malah bisa terasa aneh dan kurang menarik.

4. Tambahkan gaya khas Brand kamu

Trendjacking yang bagus bukan cuma sekadar ikut-ikutan. Coba tambahkan ciri khas atau gaya komunikasi brand supaya kontennya terasa lebih original dan beda dari yang lain. Dengan begitu, audiens juga lebih mudah mengingat brand kamu.

5. Hindari Hard Selling

Salah satu kesalahan paling sering saat trendjacking adalah terlalu fokus jualan. Padahal, tujuan utama strategi ini adalah membangun awareness dan engagement. Jadi, bikin konten yang fun, relatable, dan natural tanpa harus terlalu memaksa promosi produk.

Kalau dilakukan dengan benar, trendjacking bisa jadi cara yang efektif buat meningkatkan exposure brand dalam waktu singkat. Nggak heran kalau banyak brand besar ikut memanfaatkan tren viral untuk campaign mereka.

Kesimpulan

Trendjacking bisa menjadi strategi marketing yang powerful untuk meningkatkan awareness dan engagement brand di era digital yang serba cepat seperti sekarang. Dengan memanfaatkan tren yang sedang viral, brand punya kesempatan lebih besar untuk menarik perhatian audiens secara natural dan relevan.

Namun, mengikuti tren juga nggak bisa dilakukan asal-asalan. Brand perlu memahami konteks tren, memastikan relevansinya dengan target audiens, dan tetap mempertahankan identitas khas mereka agar konten terasa lebih authentic, bukan sekadar ikut-ikutan.

Pada akhirnya, kunci sukses trendjacking bukan cuma soal siapa yang paling cepat ikut viral, tapi siapa yang paling kreatif dalam mengolah tren menjadi konten yang relatable, menarik, dan tetap sesuai dengan karakter brand.

Pertanyaanya apakah masih wort it untuk tahun 2026? 

Secara jujur: iya, trendjacking masih sangat bisa dipakai di 2026 — tapi bentuknya sudah berubah total dibanding beberapa tahun lalu.

Kalau dulu cukup ikut meme viral, pakai bahasa Gen Z, atau bikin konten “biar FYP”, sekarang audiens jauh lebih kritis. Terutama Gen Z dan Gen Alpha. Mereka sudah bisa membedakan mana brand yang genuinely relate dan mana yang cuma numpang viral.

Data terbaru menunjukkan bahwa trendjacking masih efektif untuk awareness dan engagement, tetapi efektivitasnya turun drastis kalau dilakukan secara asal atau terlalu dipaksakan.

Menurut riset dari [Sprout Social], audiens media sosial sekarang mulai terpecah:

  • 40% masih menganggap brand ikut tren itu menarik
  • 33% justru merasa hal itu memalukan/cringe
  • 27% bilang trendjacking cuma efektif kalau brand bergerak sangat cepat (24–48 jam) [Sprout Social]

Artinya apa?

Trendjacking belum mati, tapi sekarang masuk era “selective trendjacking”. Brand nggak bisa lagi ikut semua tren demi reach.


Yang berubah di 2026 adalah perilaku audiens.

Beberapa riset menunjukkan Gen Z makin menuntut authenticity dibanding konten viral semata:

  • 97% konsumen menganggap authenticity memengaruhi keputusan mereka terhadap brand 
  • Gen Z lebih suka konten raw, natural, behind-the-scenes, dan tidak terlalu dibuat-buat
  • Penggunaan slang atau gaya “anak gaul dipaksakan” justru bisa menurunkan persepsi brand karena dianggap tidak authentic 

Ini alasan kenapa banyak brand sekarang mulai meninggalkan gaya:

 “How do you do fellow kids?”

Karena audiens sudah terlalu sadar kalau brand sedang mencoba terlihat relevan.

Bahkan menurut laporan terbaru dari [Vogue Business], beberapa brand besar mulai mengurangi fokus pada viral culture dan lebih memilih:

  • komunitas
  • storytelling
  • long-form content
  • event offline
  • creator yang niche
  • konten yang terasa manusiawi


TAPI…

Bukan berarti trendjacking jadi useless.

Faktanya, banyak campaign viral di 2025–2026 masih berhasil besar ketika memenuhi 3 syarat utama:

1. Relevan dengan identitas brand

Brand harus “punya alasan” ikut tren. Kalau tidak relevan, audiens langsung merasa aneh.

 2. Menambahkan sudut pandang baru

Sekarang audiens bosan dengan template yang sama. Mereka lebih suka brand yang menambahkan kreativitas atau self-awareness.

 3. Terasa natural

Konten yang terlalu corporate sekarang performanya mulai kalah dengan konten low-edit, casual, bahkan sedikit imperfect.


Jadi kalau ditanya:

 “Apakah trendjacking masih worth it di 2026?”

Jawaban paling jujurnya:

  • Masih sangat worth it untuk awareness
  • Masih bagus untuk engagement
  • Masih efektif untuk short-term attention

Tapi sudah tidak cukup untuk membangun loyalitas brand sendirian

Di 2026, trendjacking bukan lagi senjata utama.

Sekarang dia lebih cocok jadi:

  • “pemancing perhatian”
  • “traffic booster”
  • “conversation starter”

Sedangkan yang membangun loyalitas jangka panjang adalah:

  • authenticity
  • komunitas
  • storytelling
  • creator trust
  • value brand yang konsisten

Brand yang berhasil sekarang bukan brand yang paling cepat ikut tren, tapi brand yang:

Tahu tren mana yang pantas diikuti, dan tahu kapan harus diam.

Tinggalkan Komentar
Silakan login terlebih dahulu untuk mengomentari artikel ini.
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama berkomentar!
Pengaturan
  • Mode Tema

    Pilih mode terang, gelap atau otomatis

  • Kontras Tema

    Pilih kontras tema

  • Kustom Tema

    Pilih warna Utama Anda

Whatsapp-Button