Trendjacking Produk: Strategi Viral yang Masih Worth It
Saat ini, tren di internet nggak cuma soal meme atau challenge viral aja. Produk yang lagi hype di pasaran juga bisa jadi peluang besar buat marketing. Nah, strategi memanfaatkan produk atau pasar yang sedang ramai dibicarakan ini juga sering disebut sebagai trendjacking.
Bedanya, kalau trendjacking biasa fokus pada topik viral, trendjacking pasar lebih fokus ke produk, gaya hidup, atau kebiasaan konsumen yang lagi booming.
Misalnya, ketika minuman matcha lagi naik daun, banyak coffee shop langsung bikin menu matcha versi mereka sendiri. Atau saat tren skincare lokal meningkat, berbagai brand mulai berlomba membuat konten edukasi skincare dengan kemasan yang lebih relate ke anak muda.
Strategi ini cukup efektif karena brand memanfaatkan sesuatu yang memang sudah punya perhatian besar dari masyarakat. Jadi, audiens nggak merasa asing dengan campaign yang dibuat.
Tapi tetap ada hal penting yang perlu diperhatikan supaya trendjacking produk nggak terkesan cuma ikut-ikutan:
1. Cari tahu produk atau tren yang lagi naik
Pantau media sosial, marketplace, sampai kebiasaan konsumen. Biasanya produk yang sedang viral akan sering muncul di TikTok, Instagram Reels, atau fitur pencarian marketplace.
2. Jangan asal ikut viral
Walaupun sebuah produk sedang booming, belum tentu cocok dengan identitas brand kamu. Pastikan tren tersebut masih relevan dengan target market dan image bisnis yang dibangun.
3. Tambahkan value dari brand
Audiens sekarang lebih suka brand yang kreatif dibanding brand yang cuma copy-paste tren. Jadi, coba hadirkan sudut pandang baru, konsep unik, atau cara komunikasi yang lebih fresh.
4. Fokus bangun engagement dulu
Dalam trendjacking pasar, hard selling yang terlalu agresif biasanya kurang disukai. Konten yang entertaining, relatable, atau edukatif justru lebih gampang menarik perhatian audiens.
5. Timing itu paling penting
Kalau terlalu cepat, audiens belum tentu paham trennya. Tapi kalau terlalu lambat, tren bisa saja sudah lewat. Karena itu, brand harus pintar membaca momentum.
Sekarang sudah banyak brand yang sukses memanfaatkan tren pasar untuk meningkatkan exposure mereka. Mulai dari tren Dalgona Coffee, demam outfit old money, sampai fenomena skincare lokal yang terus berkembang di media sosial. Brand yang bisa membaca tren lebih cepat biasanya punya peluang lebih besar untuk mencuri perhatian pasar.
Kalau trendjacking dikaitkan dengan tren produk atau tren pasar, konsepnya jadi lebih dekat ke perilaku konsumen dan produk yang sedang hype di masyarakat. Jadi bukan sekadar ikut meme atau hashtag viral, tapi memanfaatkan produk, gaya hidup, atau kebiasaan yang lagi naik daun untuk menarik perhatian audiens.
Contohnya gampangnya seperti tren skincare lokal, kopi susu, tumbler, sepatu running, sampai blind box yang sempat viral di media sosial. Brand bisa “menunggangi” tren tersebut untuk meningkatkan awareness maupun penjualan.
Kesimpulannya, trendjacking berbasis tren produk atau pasar bisa jadi strategi marketing yang efektif untuk meningkatkan awareness, engagement, bahkan penjualan dalam waktu singkat. Dengan memanfaatkan sesuatu yang memang sedang ramai diperbincangkan, brand punya peluang lebih besar untuk masuk ke perhatian audiens secara natural.
Tapi perlu diingat, trendjacking bukan sekadar ikut viral. Brand tetap harus memahami tren yang sedang berjalan, memastikan relevansinya dengan target market, dan menghadirkan ciri khas agar konten terasa lebih original. Kalau dilakukan asal-asalan, campaign justru bisa terlihat dipaksakan dan kurang menarik di mata audiens.
Di era digital yang serba cepat seperti sekarang, brand yang mampu membaca tren lebih awal biasanya akan lebih unggul dalam menarik perhatian pasar. Jadi, kunci utama dari trendjacking bukan hanya soal cepat ikut tren, tapi juga bagaimana brand bisa mengolah tren tersebut menjadi konten yang relatable, kreatif, dan tetap sesuai dengan identitas bisnis mereka.
Tapi apakah Trendjacking Produk masih relevansi untuk 2026?
Secara jujur dan kalau melihat data 2025–2026:
trendjacking untuk lini produk masih sangat relevan, tapi sekarang sifatnya jauh lebih strategis dan berbasis timing lifecycle — bukan sekadar “ikut viral”.
Jadi pertanyaan paling penting di 2026 bukan lagi:
“Produk ini lagi viral nggak?”
Tapi:
“Apakah market momentum-nya masih layak dimasuki atau justru sudah overheat?”
Dan ini sangat penting karena sekarang siklus tren produk jauh lebih cepat dibanding 3–5 tahun lalu. Banyak tren naik dalam hitungan minggu lalu drop drastis karena saturasi pasar dan algoritma konten yang terlalu cepat.
Contoh nyata:
- kopi dalgona
- Citayam Fashion
- lato-lato
- skincare tertentu
- tumbler hype
- sepatu running trend
- blind box
- parfum lokal
- matcha boom
Hampir semuanya mengalami pola:
viral → FOMO → market banjir → kompetitor masuk → margin turun → audience bosan.
Jadi di 2026, skill paling penting bukan “ikut tren”, tapi: membaca momentum pasar.
Dan menurut banyak laporan marketing terbaru, brand yang berhasil sekarang adalah brand yang tahu:
- kapan masuk lebih awal
- kapan scale up
- kapan exit sebelum market jenuh.
Berikut pola yang sekarang dipakai banyak brand modern:
1. Fase EARLY SIGNAL → Waktu Terbaik Riset
Ini fase ketika produk belum benar-benar viral, tapi sudah mulai muncul di:
- TikTok niche
- komunitas kecil
- creator tertentu
- marketplace search
- Pinterest trend
- Google Trends naik perlahan
Di fase ini:
- kompetitor masih sedikit
- CPM iklan masih murah
- market belum jenuh
- margin masih tinggi
Biasanya brand cerdas masuk di sini.
Contoh:
Sebelum matcha jadi mainstream, beberapa coffee shop niche sudah mulai edukasi soal ceremonial matcha. Saat market meledak, mereka sudah dianggap “pioneer”.
Ini yang disebut:
culture positioning.
Bukan ikut tren. Tapi muncul sebelum tren besar.
2. Fase VIRAL PEAK → Waktu Terbaik Exposure Cepat
Ini fase:
- semua orang mulai bahas
- FYP penuh
- creator massal ikut
- kompetitor mulai banyak
Di sini trendjacking masih sangat efektif untuk:
- awareness
- traffic
- quick sales
- impulse buying
Tapi risikonya mulai naik:
- biaya ads naik
- kompetitor perang harga
- audience mulai capek lihat produk sama
Menurut banyak analisis 2026, kebanyakan brand terlambat masuk di fase ini karena approval internal terlalu lama atau jika di fashion biasanya bahan untuk tren warna kosong. Saat campaign tayang, tren sudah mulai turun.
Ini alasan kenapa sekarang banyak brand memakai:
- agile content team
- fast production
- creator-led campaign
- low-edit content
Karena window tren sekarang kadang cuma 24–72 jam.
3. Fase SATURATION → Waktu Paling Bahaya
Ini fase yang paling sering bikin brand rugi.
Cirinya:
- semua seller jual produk sama
- Warna produk yang sama
- perang harga
- konten mulai repetitive
- audience mulai bilang “bosen”
- engagement turun
- ROAS mulai jelek
Di fase ini banyak brand masih masuk karena:
“produk ini masih viral kok.”
Padahal sebenarnya market sudah terlalu penuh.
Bahkan beberapa riset terbaru menunjukkan kalau audiens sekarang mulai lebih selektif terhadap brand yang ikut tren, audiens sekarang cepat merasa cringe atau bosan terhadap trend marketing yang terlalu dipaksakan atau terlambat.
Ini sering terjadi di:
- fashion fast trend
- skincare ingredients hype
- aksesoris viral
- makanan FOMO
- Produk lucu-lucuan
4. Fase EXIT atau EVOLUTION → Yang Menentukan Brand Bisa Bertahan atau Tidak
Nah ini yang paling membedakan brand besar dan brand musiman.
Brand yang cuma bergantung pada hype biasanya mati setelah tren selesai (jika tidak survive kembali mencari atau membuat tren baru).
Sedangkan brand yang survive biasanya melakukan:
- repositioning
- community building
- product evolution
- storytelling
- diversifikasi produk
Karena menurut tren marketing 2026:
trust dan authenticity sekarang lebih penting daripada sekadar viral.
Makanya brand modern sekarang mulai mengurangi strategi:
- “viral terus”
- “ikut semua tren”
- “jualan hype”
Dan lebih fokus ke:
- niche audience
- loyal community
- creator trust
- repeat customer
- long-term brand identity
Bahkan beberapa laporan menyebut era “chasing virality” mulai ditinggalkan karena audience mulai lelah dengan konten yang terlalu dibuat demi algoritma.
Jadi kalau ditanya secara paling jujur:
Apakah trendjacking produk masih efektif di 2026?
Jawabannya:
- YES untuk validasi market
- YES untuk awareness cepat
- YES untuk short-term sales
- YES untuk testing demand
TAPI…
- NO kalau dijadikan fondasi utama bisnis
- NO kalau masuk terlalu telat
- NO kalau tidak punya diferensiasi
Di 2026, yang menang bukan brand yang paling viral. Tapi brand yang:
- paling cepat membaca momentum
- paling paham kapan scale
- dan paling tahu kapan harus keluar sebelum market jenuh.
Banyak brand sekarang salah fokus. Mereka sibuk mencari reach, tapi lupa membangun alasan kenapa audience harus tetap tinggal setelah viral selesai.
Karena di era digital 2026, perhatian bisa datang dengan cepat. Tapi kepercayaan? Itu dibangun jauh lebih lama.
Tinggalkan Komentar
Artikel Terkait
Apa itu Trendjacking Konten? dan Relevansi pada 2026